Konsep “kemerdekaan” dan “manusia merdeka” merupakan fondasi filosofis, sosial, dan politik yang universal. Di Indonesia, kata merdeka tidak hanya merujuk pada kemerdekaan bangsa secara kolektif, tetapi juga pada cita-cita untuk membebaskan setiap individu. Konsep ini telah menjadi pokok pembahasan mendalam bagi para pemikir dan pemimpin di seluruh dunia, yang masing-masing menawarkan perspektif unik tentang apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya bebas.
Artikel ini bertujuan untuk mengupas dan membandingkan definisi manusia merdeka melalui lensa ideologis dan filosofis dari lima tokoh terkemuka: Ki Hajar Dewantara, Jean-Paul Sartre, Paulo Freire, Nelson Mandela, dan Mahatma Gandhi. Analisis ini akan melampaui deskripsi dangkal, mengidentifikasi benang merah, kontradiksi, dan relevansi kontemporer dari pemikiran mereka. Laporan ini akan diawali dengan analisis etimologi merdeka, diikuti dengan pembahasan mendalam per tokoh, analisis komparatif, dan diakhiri dengan sintesis implikasi bagi dunia modern.
Akar Konseptual dan Etimologi Kata “Merdeka”
Kata merdeka memiliki akar konseptual yang jauh lebih dalam dari sekadar definisi politik. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Sanskerta kuno, maharddhika atau merdeheka, yang secara harfiah berarti “rahib atau biku” atau “keramat, sangat bijaksana, atau alim”. Dalam bahasa Jawa kuno, kata ini sering dinisbahkan kepada para pendeta atau biku Buddha, yang memiliki kedudukan terhormat dan mulia dalam sistem stratifikasi sosial. Hal ini menyiratkan bahwa kemerdekaan sejati, pada tingkat filosofis, adalah pencapaian spiritual atau moral, bukan hanya status politik. Latar belakang kata ini mengandung makna keagungan dan kehormatan yang dicapai melalui kebijaksanaan atau pelepasan diri.
Namun, di pertengahan abad ke-20, makna merdeka bertransformasi secara signifikan dalam konteks Melayu-Indonesia. Ia menjadi seruan perlawanan (rallying cry) yang melambangkan “kebebasan” dan “kemandirian nasional”. Pekikan Merdeka, Bung! menjadi simbol emansipatoris yang merefleksikan cita-cita untuk membebaskan diri dari berbagai bentuk ketidakadilan, terutama ketidakadilan dalam distribusi kehormatan dan kepemilikan. Penggunaan kata bung—yang menyerupai istilah citoyen dari Revolusi Prancis dan comrade dari Revolusi Rusia—menyiratkan cita-cita persaudaraan dalam kesederajatan kewargaan (citizenship). Dengan demikian, proklamasi kemerdekaan adalah titik kedatangan cita-cita kebebasan, persamaan, dan persaudaraan, yang harus terus dibina dan diperjuangkan. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para pendiri bangsa, kemerdekaan tidak hanya tentang membebaskan diri dari penjajahan eksternal, tetapi juga tentang membebaskan diri dari belenggu internal—seperti kebodohan, hawa nafsu, dan ketidakadilan—untuk mencapai status mulia sebagai manusia yang utuh. \
Definisi Manusia Merdeka dari Berbagai Lensa Filosofis dan Ideologis
Ki Hajar Dewantara: Kemerdekaan sebagai Otonomi dan Kemandirian Holistik
Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), “manusia merdeka” didefinisikan sebagai individu yang hidupnya “bersandar pada kekuatan dan kehendak sendiri baik lahir maupun batin; tidak tergantung pada orang lain”. Ini adalah konsep kemandirian yang utuh, mencakup aspek fisik dan mental. Pemikiran ini menjadi fondasi bagi konsep pendidikan Merdeka Belajar yang bertujuan “memanusiakan manusia” dengan memerdekakan mereka dalam “segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani”. Merdeka Belajar menekankan kemandirian siswa, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dan relevansi kurikulum dengan kehidupan nyata.
KHD tidak hanya mengajarkan filosofi ini, tetapi juga menjadikannya prinsip hidup. Pengalamannya melepaskan identitas ningratnya sebagai “Raden Mas Soewardi Soerjaningrat” dan memilih nama Ki Hajar Dewantara adalah manifestasi nyata dari kemerdekaan batin yang ia definisikan. Tindakan ini dilakukan untuk lebih dekat dengan rakyat dan berjuang melalui jalur pendidikan, menunjukkan sebuah “otonomi eksistensial dan intelektual” yang signifikan. Filosofi Merdeka Belajar yang ia cetuskan bukanlah sekadar gagasan pedagogis, melainkan perpanjangan dari prinsip hidupnya sendiri. KHD mendidik dengan contoh (nyontoni), bukan hanya mengajari (nguroni), membuktikan bahwa kemandirian sejati adalah filosofi yang teruji dalam praktik kehidupan pribadi.
Jean-Paul Sartre: Kemerdekaan sebagai Beban dan Tanggung Jawab Mutlak
Dalam aliran eksistensialisme, Jean-Paul Sartre memperkenalkan konsep sentral bahwa “eksistensi mendahului esensi” (l’existence précède l’essence). Ini berarti bahwa manusia tidak dilahirkan dengan esensi, tujuan, atau sifat yang telah ditentukan sebelumnya. Seseorang pertama-tama eksis (ada), dan kemudian, melalui tindakan dan pilihan, ia menciptakan esensinya sendiri. Bagi Sartre, manusia terkutuk untuk bebas (man is condemned to be free), dan kebebasan ini adalah hakikatnya. Manusia bebas untuk memilih dan memberikan makna pada realitas yang dihadapinya.
Namun, kebebasan mutlak ini memunculkan kecemasan (angoisse) dan ketidakpastian. Karena tidak ada esensi yang telah ditentukan, manusia bertanggung jawab penuh atas setiap tindakan dan pilihan hidupnya. Tidak ada yang dapat melepaskan diri dari tanggung jawab ini atau menyalahkan faktor eksternal seperti takdir atau keadaan sosial. Menurut Sartre, manusia sering mencoba melarikan diri dari tanggung jawab ini dengan mencari pembenaran atau dalih dari luar, padahal tindakan tersebut hanya merupakan cara untuk menghindari kewajiban pribadi mereka. Kebebasan bagi Sartre bukanlah hadiah, melainkan sebuah beban yang menakutkan karena ia menuntut otentisitas—kemauan untuk menciptakan diri sendiri tanpa panduan eksternal.
Paulo Freire: Kemerdekaan sebagai Pembebasan dari Penindasan Struktural
Berbeda dengan Sartre yang berfokus pada individu, Paulo Freire memandang kemerdekaan dari lensa sosial dan politik. Ia mengusung pedagogi pembebasan sebagai alat untuk “memecah masalah sosial dan politik”. Tujuan pendidikannya adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu struktural yang menindas, yang sering kali mereduksi mereka menjadi objek, bukan subjek, dalam kehidupan. Tujuan utama pendidikan ini adalah humanisasi—mengembalikan manusia ke posisi utuhnya sebagai makhluk yang bermartabat.
Freire menjelaskan bahwa pembebasan ini dicapai melalui proses konsientisasi atau penyadaran, yang dibagi menjadi tiga tingkatan :
- Kesadaran Magis: Tingkat kesadaran paling determinis di mana manusia pasrah pada nasib dan tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Mereka menganggap kemiskinan atau penyakit sebagai takdir, menciptakan masyarakat yang ia sebut “budaya bisu”.
- Kesadaran Naif: Masyarakat mulai meyakini bahwa suatu peristiwa terjadi karena diri sendiri, namun masih terjebak dalam generalisasi dan egoisme.
- Kesadaran Kritis: Ini adalah tingkatan tertinggi di mana manusia mampu menganalisis masalah secara holistis dan makro untuk menemukan sebab akibatnya. Kesadaran inilah yang mengarahkan manusia pada proses pembebasan dan kemerdekaan dari ketertindasan.
Freire menawarkan sebuah model struktural di mana kebebasan individu tidak dapat dicapai tanpa pembebasan kolektif dari sistem yang menindas. Konsientisasi individu adalah prasyarat untuk tindakan kolektif guna mengubah realitas sosial yang menindas. Oleh karena itu, konsepnya memiliki relevansi langsung dengan kebijakan Merdeka Belajar di Indonesia, seperti penghapusan Ujian Nasional untuk membebaskan siswa dari beban psikologis dan mendorong pembelajaran yang dialogis dan kritis.
Nelson Mandela: Kemerdekaan sebagai Perluasan Kebebasan Orang Lain
Nelson Mandela mendefinisikan kemerdekaan dengan pandangan yang melampaui kebebasan pribadi. Baginya, “untuk bebas tidak hanya membuang satu rantai,” melainkan “untuk hidup dalam rasa saling menghargai dan memperbesar kebebasan orang lain”. Pandangan ini adalah perluasan dari kemerdekaan individu menjadi kewajiban sosial dan politik. Mandela menekankan bahwa “tidak ada kemerdekaan sejati selama kemiskinan masih berlanjut,” dan menolak pemenuhan hak asasi manusia berarti menantang kemanusiaan itu sendiri.
Perjuangan Mandela sangat dipengaruhi oleh Mahatma Gandhi. Ia menyebut Gandhi sebagai “Africa’s Gandhi” dan terinspirasi oleh filosofi passive resistance dan Satyagraha-nya. Ini menunjukkan bahwa bagi Mandela, kemerdekaan politik tidak bisa dicapai dengan cara apa pun; caranya harus selaras dengan prinsip-prinsip moral tertinggi. Kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan yang bermartabat, di mana tujuan dan cara memiliki nilai yang sama. Mandela menjadi contoh bagaimana prinsip-prinsip spiritual dapat menjadi alat yang ampuh untuk perubahan sosial, menunjukkan sintesis antara perjuangan politik dan etika.
Mahatma Gandhi: Kemerdekaan sebagai Transformasi Spiritual dan Sosial
Filosofi kemerdekaan Mahatma Gandhi berpusat pada dua prinsip kardinal: Satya (Kebenaran) dan Ahimsa (Non-Kekerasan atau “cinta aktif”). Ahimsa dianggap sebagai kekuatan terkuat yang ada, dan jika kekerasan lebih unggul, umat manusia sudah akan menghancurkan dirinya sendiri sejak lama. Bagi Gandhi, kemerdekaan adalah sebuah proses ganda: transformasi individu dan transformasi sosial yang terjadi secara simultan.
Pada tingkat individu, kemerdekaan menuntut self-discipline, simplicity of life-style, dan self-transformation. Pada tingkat sosial, tujuannya adalah Sarvodaya (“kesejahteraan bagi semua tanpa pengecualian”). Konsep Sarvodaya memberikan dimensi ekonomi dan sosial yang unik, yang melampaui kebebasan politik dan hak-hak individu untuk mencakup desentralisasi ekonomi, produksi berbasis kebutuhan, dan pemberantasan kemiskinan. Alat praktis untuk perjuangan non-kekerasan ini adalah Satyagraha, sebuah metode untuk melawan ketidakadilan tanpa melakukan kekerasan dan dengan menempatkan tekanan moral pada lawan. Bagi Gandhi, kemerdekaan sejati tidak akan pernah terwujud selama ketidaksetaraan ekonomi dan kemiskinan masih ada, sebuah pandangan yang sangat selaras dengan Mandela.
Analisis Komparatif: Menemukan Benang Merah dan Kontradiksi
Analisis terhadap kelima tokoh ini mengungkapkan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami konsep manusia merdeka.
Tokoh | Definisi Inti | Fokus Utama | Domain Ideologis/Filosofis | Hubungan dengan Tanggung Jawab | Sarana Pencapaian |
Ki Hajar Dewantara | Hidup bersandar pada kekuatan dan kehendak diri sendiri, lahir dan batin, tidak tergantung pada orang lain. | Individual dan Kolektif | Pendidikan/Humanisme | Bertanggung jawab untuk mengatur kehidupan selaras dengan aturan masyarakat. | Pendidikan yang memerdekakan dan memanusiakan. |
Jean-Paul Sartre | Manusia menciptakan esensinya sendiri melalui pilihan dan tindakan. | Individual | Eksistensialisme Ateistik | Tanggung jawab mutlak yang menciptakan kecemasan. | Pilihan dan tindakan sadar yang otentik. |
Paulo Freire | Pembebasan dari belenggu penindasan struktural. | Kolektif | Pedagogi Kritis/Marxisme | Kewajiban untuk membebaskan diri dan orang lain. | Konsientisasi dan perjuangan kolektif. |
Nelson Mandela | Hidup dalam saling menghargai dan memperbesar kebebasan orang lain. | Kolektif | Aktivisme/Politik | Kewajiban etis untuk berjuang demi kebebasan kolektif. | Perjuangan non-kekerasan yang bermartabat. |
Mahatma Gandhi | Transformasi spiritual dan sosial melalui kebenaran dan non-kekerasan. | Individual dan Kolektif | Spiritualisme/Politik | Kewajiban ganda: self-transformation dan Sarvodaya. | Satyagraha dan non-kekerasan. |
Terdapat dualisme yang jelas dalam konsep kemerdekaan. Di satu sisi, ada fokus pada kemerdekaan internal atau batin, yang terlihat pada pemikiran Sartre (pembebasan dari ilusi esensi), Gandhi (pembebasan dari hawa nafsu dan kekerasan), dan KHD (kemandirian batin). Ini adalah pembebasan dari belenggu psikologis, moral, atau spiritual. Di sisi lain, terdapat fokus pada kemerdekaan eksternal, yang berfokus pada pembebasan dari penindasan fisik, politik, atau struktural. Hal ini menjadi tema utama dalam pemikiran Freire (dari struktur penindasan), Mandela (dari apartheid), dan Gandhi/Mandela (dari penjajahan). Namun, kedua dimensi ini tidak terisolasi. Tokoh-tokoh yang berfokus pada individu, seperti KHD dan Sartre, pada akhirnya mengakui dimensi sosial dari kemerdekaan. Begitu pula, tokoh yang berfokus pada kolektif, seperti Gandhi dan Freire, tetap menuntut transformasi individu.
Analisis ini juga mengungkap paradoks fundamental antara kebebasan dan tanggung jawab. Bagi Sartre, kebebasan adalah beban yang menakutkan karena membawa tanggung jawab mutlak tanpa panduan eksternal. Sebaliknya, Mandela dan Gandhi melihat kebebasan sebagai sebuah kewajiban etis—menjadi “bebas” berarti mengambil tanggung jawab untuk membebaskan orang lain. Pandangan ini sejalan dengan perspektif Islam, di mana kemerdekaan dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan sesuai syariat. Singkatnya, tidak ada konsep
manusia merdeka yang sepenuhnya terisolasi atau sepenuhnya kolektif. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang secara simultan dibebaskan dari belenggu internal dan eksternal, dan yang dipikul dengan penuh tanggung jawab.
Kesimpulan
Konsep manusia merdeka adalah sebuah konstruksi yang multi-dimensi. Dari etimologi yang mulia hingga interpretasi modern, ia mencakup otonomi pribadi (KHD, Sartre), kesadaran kritis (Freire), kewajiban kolektif (Mandela), dan transformasi spiritual (Gandhi). Benang merahnya adalah bahwa kemerdekaan tidak pernah pasif; ia selalu menuntut tindakan, kesadaran, dan tanggung jawab.
Pemikiran ini memiliki relevansi kuat dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti era post-truth, disinformasi, dan polarisasi sosial. Pandangan Gandhi tentang Satya (Kebenaran) dan konsep Sartre tentang otentisitas pribadi menawarkan kerangka etis untuk melawan disinformasi dan membangun integritas personal. Di tengah polarisasi, konsep Mandela (memperbesar kebebasan orang lain) dan Gandhi (Sarvodaya) menyediakan landasan untuk membangun solidaritas dan keadilan. Kemerdekaan sejati menuntut kita untuk mengadopsi kombinasi dari prinsip-prinsip ini: memiliki otonomi dan integritas pribadi, menerima beban tanggung jawab atas pilihan hidup, terus-menerus mengembangkan kesadaran kritis terhadap penindasan struktural, dan menyadari bahwa kebebasan individu tidak lengkap tanpa perjuangan untuk kebebasan kolektif. Pada akhirnya, laporan ini menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah sebuah tujuan yang telah dicapai, melainkan sebuah proses yang berkelanjutan, sebuah perjuangan yang harus diakrabi, dibina, dan diperjuangkan seumur hidup.
Daftar Pustaka :
- Merdeka, Bung – Media Indonesia, diakses Agustus 31, 2025, https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/118006/merdeka-bung
- merdeka, n. meanings, etymology and more | Oxford English Dictionary, diakses Agustus 31, 2025, https://www.oed.com/dictionary/merdeka_n
- Apa Pengertian Manusia Merdeka Menurut Ki Hadjar Dewantara …, diakses Agustus 31, 2025, https://www.tribunnews.com/pendidikan/2025/06/19/apa-pengertian-manusia-merdeka-menurut-ki-hadjar-dewantara-jawaban-modul-3-ffpn-topik-1-ppg-2025
- Apa Pengertian ‘Manusia Merdeka’ Menurut Ki Hadjar Dewantara? Ini Jawabannya, diakses Agustus 31, 2025, https://www.detik.com/sulsel/berita/d-7980527/apa-pengertian-manusia-merdeka-menurut-ki-hadjar-dewantara-ini-jawabannya
- KONSEP MERDEKA BELAJAR DALAM KURIKULUM MERDEKA DITINJAU DARI PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA DAN PAULO FREIRE – Institutional Repository UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, diakses Agustus 31, 2025, https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/68837/
- Kontruksi pemikiran Paulo Freire tentang kebijakan … – Journal UNY, diakses Agustus 31, 2025, https://jurnal.uny.ac.id/index.php/humanika/article/download/60475/pdf/186621
- Jalan Lurus Ki Hadjar Dewantara. Potret Pribadi Berani, Sederhana, & Berintegritas! – ACLC KPK, diakses Agustus 31, 2025, https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20231028-jalan-lurus-ki-hajar-dewantara-potret-pribadi-berani-sederhana-berintegritas
- Ki Hajar Dewantara – Vini Agil – WordPress.com, diakses Agustus 31, 2025, https://viniagilvirgiani.wordpress.com/2017/05/28/ki-hajar-dewantara/
- To be, or not to be: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Eksistensi …, diakses Agustus 31, 2025, https://serang-cilacap.desa.id/to-be-or-not-to-be-kebebasan-tanggung-jawab-dan-eksistensi-manusia
- Existentialisme Sartre: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Eksistensi Manusia | Cisuru, diakses Agustus 31, 2025, https://cisuru.desa.id/existentialisme-sartre-kebebasan-tanggung-jawab-dan-eksistensi-manusia/
- Pendidikan Kaum Tertindas, Ikhtiar Memecah Masalah Sosial dan Politik | kumparan.com, diakses Agustus 31, 2025, https://kumparan.com/gilang-ramadhan-1672629874834465668/pendidikan-kaum-tertindas-ikhtiar-memecah-masalah-sosial-dan-politik-21Dbzu2GHW0
- Konsep Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif … – UIN SAIZU, diakses Agustus 31, 2025, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/jpa/article/download/5370/3354
- Konsep Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Islam (Menurut Paulo Freire), diakses Agustus 31, 2025, https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/jpa/article/view/5370
- 27 Kata-Kata Bijak Nelson Mandela Tentang Kemanusiaan …, diakses Agustus 31, 2025, https://www.merdeka.com/jateng/27-kata-kata-bijak-nelson-mandela-tentang-kemanusiaan-inspiratif-dan-penuh-makna-kln.html
- Brief outline of Gandhi’s Philosophy | Philosophy | Articles on and by …, diakses Agustus 31, 2025, https://www.mkgandhi.org/articles/murphy.php
- MENGGALI MAKNA KEMERDEKAAN SEJATI – UIN Alauddin …, diakses Agustus 31, 2025, https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/menggali-makna-kemerdekaan-sejati-0824