Ade Parlaungan Nasution

Fokus Wilayah: Sentra Pangan Sumatera Utara (Deli Serdang, Sergai, Simalungun, Karo) Pisau Analisis: Michael P. Todaro (3 Core Values & Todaro Migration Model)

 

BAB I: PENDAHULUAN DAN LANDASAN FILOSOFIS

Dalam kurun waktu dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto (2024–2026), kebijakan ekonomi-politik Indonesia kembali dicengkeram oleh narasi teknokratis-politis pencapaian Swasembada Pangan Nasional. Retorika kedaulatan pangan dijadikan jualan politik utama yang diwujudkan melalui mobilisasi anggaran besar-besaran untuk cetak sawah baru (food estate), bantuan alat mesin pertanian (alsintan), dan insentif input fisik.

Namun, kebijakan ini menyimpan paradoks struktural yang mendasar: pemerintah terobsesi pada output kuantitatif (tonase produksi beras dan jagung), tetapi abai terhadap ekosistem sosial-ekonomi yang menopang kehidupan produsen pangan itu sendiri. Sumatera Utara—sebagai provinsi dengan karakter ganda (dualistic economy) sebagai lumbung pangan sekaligus raksasa perkebunan sawit nasional—menjadi laboratorium ekonomi-politik yang paling krusial untuk menguji apakah ambisi swasembada ini benar-benar menghadirkan keadilan atau justru memperdalam kemiskinan struktural.

Pisau Analisis Todaro vs Obsesi Produksi Agregat Makro

Teori Pembangunan Ekonomi Michael P. Todaro melancarkan kritik tajam terhadap paradigma Growth-Centric dan Productivity-Centric yang dianut pemerintah. Todaro menegaskan bahwa meningkatkan angka PDRB atau memecahkan rekor produksi fisik panen bukanlah bukti keberhasilan pembangunan jika di saat yang sama kesejahteraan riil masyarakat perdesaan stagnan atau merosot. Pembangunan sejati menurut Todaro adalah proses multidimensional yang mereorientasi seluruh sistem sosial, politik, dan ekonomi untuk mewujudkan Tiga Nilai Inti Pembangunan (Three Core Values of Development):

1.       Sustenance (Kecukupan Hidup Multidimensional): Swasembada tidak ada artinya jika produksi tinggi tetapi Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) di Sumut stagnan di angka tipis (101-104) akibat tergerus lonjakan biaya operasional dan harga pupuk non-subsidi. Petani memproduksi pangan untuk negara, tetapi rumah tangga mereka sendiri rentan terhadap kerawanan pangan

2.       Self-Esteem (Harga Diri dan Kedaulatan Posisi Tawar): Kebijakan pangan memperlakukan petani sekadar sebagai ‘obyek produksi’ (price taker), bukan agen pembangunan yang berdaulat. Dalam rantai pasok asimetris di Sumut, posisi tawar petani tetap dilumpuhkan oleh tengkulak, pedagang pengumpul besar, dan oligopoli pasar.

3.       Freedom from Servitude (Kebebasan Ekonomi): Kebijakan 2 tahun terakhir belum membebaskan petani Sumut dari jeratan ketergantungan modal informal (pemberi pinjaman berbiaya tinggi), hambatan alokasi pupuk bersubsidi, serta ancaman konversi lahan sawah menjadi perkebunan sawit dan infrastruktur komersial (1.200 – 2.500 Ha/tahun).

 

 

Tiga Problem Dekonstruksi Kebijakan Pangan di Sumatera Utara

  1. Tekanan Dualisme Ekonomi (Economic Dualism)

Terjadi kanibalisme ekonomi di mana sektor perkebunan skala besar (sawit/karet) memoles angka NTP provinsi secara semu (NTPR > 150), sementara sektor pertanian pangan rakyat (NTPP 101-104) terus terpinggirkan dalam perebutan lahan, air, dan insentif modal.

  1. Anomali Keputusan Ekonomi Perdesaan (Model Migrasi Todaro)

Enggannya generasi muda Sumut menjadi petani (petani milenial hanya ~22,4%) bukanlah akibat ‘kemalasan’, melainkan respons rasional terhadap Expected Income Differential (selisih ekspektasi pendapatan) yang sangat merugikan sektor pertanian.

  1. Keluaran Kebijakan yang Pseudo-Sovereignty (Kedaulatan Semu)

Pemerintah mengklaim pencapaian angka produksi pangan nasional, tetapi pada tingkat mikro perdesaan Sumut, terjadi fenomena Aging Farmers (>61% berusia >45 tahun) dan de-agrarisasi yang mengancam keberlanjutan pangan dalam jangka panjang.

BAB II: KERANGKA KONSEP DAN ARSITEKTUR ALUR BERPIKIR

Kajian ini disusun berdasarkan alur logika yang menghubungkan secara kausal antara kebijakan swasembada pangan tingkat makro, realitas indikator mikro data sekunder BPS/Kementan, serta analisis akademis Teori Todaro:

Tahap Alur Logika Kelompok Data Sekunder BPS Analisis Teori Todaro
Level 1: Kebijakan Makro Program Swasembada Pangan Nasional & Bantuan Akselerasi Kritik Todaro: Target produksi fisik tanpa jaminan insentif riil gagal meningkatkan kualitas hidup multidimensional.
Level 2: Kesejahteraan Mikro Data 1: NTPP 101,2–104,8 vs NTPR >150
Data 4: Pupuk Non-Subsidi 3x Lipat & Upah Buruh Tani
Sustenance & Dualisme Ekonomi: Terjadi marjinilisasi keuntungan petani pangan di tengah kejayaan perkebunan sawit.
Level 3: Keagrariaan & Lahan Data 2: Penyusutan Lahan Sawah 1.200 – 2.500 Ha/thn akibat alih fungsi Freedom from Servitude: Ketiadaan kedaulatan atas tanah dan tingginya biaya input membelenggu kebebasan ekonomi.
Level 4: Regenerasi & Demografi Data 3: >61% Petani Usia >45 Tahun; Milenial hanya ~22,4% Todaro Migration Model: Expected Income Differential yang rendah memicu migrasi pemuda desa dan krisis Aging Farmers.

 

BAB III: EKSPLORASI DATA SEKUNDER & ANALISIS KRITIS TODARO

  1. Data Nilai Tukar Petani (NTP) & NTUP Sumut: Menguji Sustenance & Dualisme Ekonomi

Berdasarkan data BPS Sumatera Utara kurun waktu 2024–2026, NTP gabungan provinsi berada pada level relatif tinggi (~128–135). Namun, breakdown per subsektor menunjukkan terjadinya Dualisme Ekonomi Todaro yang sangat tajam:

  • Nilai Tukar Petani Perkebunan (NTPR): Selalu berada di atas 150,00, didorong oleh tingginya harga komoditas global kelapa sawit.
  • Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP): Berada pada rentang sangat tipis 101,20 – 104,80. Ini menandakan bahwa pendapatan petani beras/jagung hampir impas dengan pengeluaran konsumsi.
  • Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH): Fluktuatif pada kisaran 108,50 – 115,30 akibat gejolak harga pasar cabai dan sayuran (wilayah Karo dan Simalungun).
  • Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP): Berada pada kisaran 103,50 – 106,10, membuktikan bahwa efisiensi biaya usaha tani tanaman pangan sangat tertekan.

 

  1. Biaya Input & Asimetri Rantai Pasok: Mengikis Freedom from Servitude

Faktor utama yang menekan NTPP di Sumatera Utara adalah struktur biaya produksi yang melambung tinggi:

  • Harga Pupuk: Disparitas ekstrem antara HET pupuk bersubsidi (Urea ~Rp2.250/kg, NPK ~Rp2.300/kg) dengan pupuk non-subsidi di pasar bebas (Rp7.500 – Rp11.000/kg). Keterbatasan kuota subsidi memaksa petani membeli pupuk non-subsidi.
  • Upah Buruh Tani: Upah harian buruh tani perdesaan di Sumut mencapai Rp90.000–Rp110.000/hari (pria) dan Rp65.000–Rp80.000/hari (wanita), naik 4–6% per tahun.
  • Asimetri Rantai Pasok: Petani tetap bertindak sebagai ‘price taker’ yang tidak memiliki daya tawar (Self-Esteem terabaikan) di hadapan tengkulak dan pedagang pengumpul besar.

 

  1. Laju Alih Fungsi Lahan Baku Sawah: Marjinilisasi Struktur Agraria

Luas Lahan Baku Sawah (LBS) di Sumatera Utara berkisar antara 207.400 – 211.000 Ha, namun mengalami penyusutan laju konversi sebesar 1.200 – 2.500 hektar per tahun. Alih fungsi lahan sawah produktif di wilayah sentra (Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan) didorong oleh dua faktor utama:

  • Konversi mandiri oleh petani menjadi kebun kelapa sawit rakyat yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial.
  • Ekspansi pemukiman komersial, kawasan industri, dan infrastruktur tol.
    Hal ini mencerminkan berkurangnya kedaulatan tanah petani gurem, yang bertolak belakang dengan kebebasan dari ketergantungan (Freedom from Servitude).

 

  1. Demografi Petani & Model Migrasi Todaro: Anomali Krisis Regenerasi

Hasil Sensus Pertanian 2023 BPS mengonfirmasi fenomena Aging Farmers di Sumatera Utara:

  • Usia Petani: Lebih dari 61% pengelola usaha tani berusia di atas 45 tahun (48,5% usia 45–64 tahun, dan 13,2% usia >65 tahun).
  • Petani Milenial: Proporsi petani muda berusia 19–39 tahun hanya mencapai ~22,4%.
  • Pendidikan: Lebih dari 42% petani berpendidikan maksimal SD/tidak tamat SD, dan kurang dari 5% yang mengenyam pendidikan tinggi.

Sesuai Todaro Migration Model, keputusan pemuda pedesaan untuk meninggalkan sektor pertanian adalah pilihan rasional. Pemuda desa memperhitungkan Expected Income Differential (selisih ekspektasi pendapatan riil): Pendapatan bersih di sektor padi/hortikultura yang tipis dan berisiko tinggi kalah menarik dibandingkan ekspektasi pendapatan di sektor informal/jasa perkotaan (Medan dan sekitarnya). Akibatnya, target swasembada pangan terancam kehilangan eksekutor di lapangan.

 

“SWASEMBADA ITU MARATON, BUKAN SPRIN”
Otopsi Kritis Kebijakan Pangan Nasional dan Nasib Petani Sumatera Utara
Pisau Analisis: Teori Pembangunan Ekonomi Michael P. Todaro & Data BPS (2024–2026)

Konteks Acara: Keynote Speech / Presentasi Seminar Akademis & Kebijakan Fokus Studi: Sentra Pangan Sumatera Utara & Paradigma Todaro

 

  1. MATRIKS METAFORA PARADIGMA: SPRIN VS. MARATON

Tabel berikut menyajikan dekonstruksi mendasar antara pendekatan kebijakan pangan berbasis ‘Sprin’ (kebijakan saat ini) dengan pendekatan ‘Maraton’ (paradigma ideal berorientasi kedaulatan petani):

Dimensi Analisis Pendekatan ‘Sprin’ (Kritik Kebijakan Saat Ini) Pendekatan ‘Maraton’ (Rekonstruksi Solutif)
Fokus Utama Kebijakan Productivity-Centric: Mengejar target kuantitatif tonase gabah/beras nasional secara instan. Farmer-Centric: Berfokus pada peningkatan pendapatan bersih riil (net income) dan daya beli petani.
Indikator Keberhasilan Statistik pertumbuhan makro, pencapaian angka fisik, dan klaim pencapaian swasembada politik. Indikator Todaro: Sustenance (Kecukupan Hidup), Self-Esteem (Harga Diri/Daya Tawar), & Freedom from Servitude.
Strategi Intervensi Input Mobilisasi fisik masif: cetak sawah baru (food estate), bagi-bagi alsintan, dan insentif input terpusat. Pembenahan struktur agraria, reformasi rantai pasok asimetris, dan penataan disparitas harga input/pupuk.
Dampak Terhadap Regenerasi Mengabaikan motivasi ekonomi pemuda desa; memicu de-agrarisasi dan eksodus tenaga kerja muda. Menjamin Expected Income Differential yang kompetitif dan rasional bagi petani milenial/muda.
Daya Tahan & Keberlanjutan Rentan guncangan (burnout): laju alih fungsi lahan tinggi dan krisis penuaan petani (Aging Farmers). Berkelanjutan (Sustainable): Menjaga kedaulatan lahan dan stamina ekonomi perdesaan lintas generasi.

 

 

1: ‘Jebakan Sprin’ dalam Kebijakan Pangan Nasional

 

Naskah & Narasi Orasi Pembicara:
“Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati,

Dalam dua tahun terakhir (2024–2026), kebijakan pangan nasional kita dijangkiti oleh sebuah penyakit teknokratis yang saya sebut sebagai ‘Jebakan Sprin’. Pemerintah berlari dengan sangat kencang, tergesa-gesa mengejar status swasembada demi klaim-klaim keberhasilan politik berbasis angka fisik: berapa juta ton gabah diresmikan, berapa ribu alsintan dibagikan, dan berapa hektar cetak sawah baru dibuka.

Namun, dalam teori pembangunan ekonomi, Michael P. Todaro telah menggarisbawahi sebuah peringatan keras: ‘Ekonomi yang berlari sprin mengejar pertumbuhan aggregates dan produksi fisik sering kali mencampakkan manusianya di tepi jalan.’

Swasembada pangan yang sejati tidak diukur dari seberapa penuh gudang-gudang Bulog di ibu kota, melainkan dari apakah Sustenance (Kecukupan Hidup) rumah tangga petani di desa-desa kita terpenuhi. Mengutip studi klasik Neilson & Wright, terdapat bahaya laten ketika sebuah negara mengejar Political Food Self-Sufficiency (swasembada berbasis retorika politik). Kebijakan sprin semacam ini sering kali mengorbankan Food Security di tingkat tapak. Kita menciptakan statistik beras yang melimpah di atas kertas, tetapi meninggalkan rumah tangga petani produsennya dalam bayang-bayang kerawanan pangan dan kemiskinan struktural.”

Pendalaman Analisis:

  • Paradoks Agregat vs Mikro: Terjadi decoupling (pemutusan hubungan) antara kesuksesan makro yang diklaim pemerintah dengan realitas mikro di tingkat rumah tangga petani.
  • Pilar Todaro (Sustenance): Kebutuhan dasar bukan sekadar ketersediaan fisik barang (supply), melainkan entitlement (akses daya beli riil) petani untuk memperoleh pangan bergizi tanpa harus mengorbankan kebutuhan dasar lainnya.
2: Realitas di Lintasan Sumatera Utara (Bukti Empiris Data BPS)

 

Naskah & Narasi Orasi Pembicara:
“Hadirin yang saya hormati,

Mari kita bedah realitas ini di lintasan nyata: Provinsi Sumatera Utara. Jika kita melihat Sumatera Utara melalui angka Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan yang berada di atas angka 130, kita mungkin terkecoh oleh ilusi fatamorgana. Angka itu dipoles secara masif oleh subsektor perkebunan sawit (NTPR > 150).

Namun, tatkala kita menguliti data BPS pada sektor Tanaman Pangan (NTPP), angka itu merosot tajam berada di kisaran tipis 101,2 hingga 104,8. Artinya apa? Petani beras dan jagung di Deli Serdang, Serdang Bedagai, hingga Simalungun berlari dengan beban batu besar yang diikat di kaki mereka. Pendapatan panen mereka habis tergerus oleh melambungnya harga pupuk non-subsidi hingga tiga kali lipat dan merangkaknya upah buruh tani.

Di saat yang sama, terjadi Dualisme Ekonomi yang mengerikan. Lintasan lari petani pangan terus digerus oleh ekspansi perkebunan dan properti. Sumatera Utara kehilangan 1.200 hingga 2.500 hektar lahan baku sawah setiap tahunnya. Sebagaimana dibuktikan oleh studi McCarthy et al., terjadi transformasi agraria yang meminggirkan petani pangan. Dan mengutip Jamhari et al., struktur rantai pasok yang asimetris menempatkan petani sebagai ‘price taker’ yang tidak memiliki daya tawar (Self-Esteem) di hadapan tengkulak dan oligopoli pasar. Petani pangan kita berlari mati-matian, tetapi keuntungannya dipanen oleh para perantara.”

Pendalaman Analisis:

  • Dualisme Ekonomi Todaro: Jurang pemisah yang lebar antara sektor modern komersial (plantation sector) dengan sektor subsisten/pangan rakyat (smallholder farming).
  • Pilar Todaro (Freedom from Servitude & Self-Esteem): Petani terbelenggu oleh ketidakpastian lahan dan ketiadaan daya tawar dalam penentuan harga panen.

 

3: ‘Kehabisan Napas’ – Krisis Regenerasi Petani


“Hadirin yang terpelajar,

Dampak paling fatal dari kebijakan berorientasi sprin ini adalah krisis stamina jangka panjang: Kita sedang kehabisan pelari di masa depan.

Sensus Pertanian BPS merekam kenyataan yang menyentak kesadaran kita: Lebih dari 61% petani di Sumatera Utara kini berusia di atas 45 tahun. Sementara itu, proporsi petani milenial (usia 19–39 tahun) hanya menyisa kurang dari 22,4%. Sektor pertanian pangan kita dipenuhi oleh para orang tua yang memaksakan fisik mereka yang mulai senja.

Mengapa anak-anak muda di perdesaan Sumatera Utara enggan menyentuh lumpur sawah? Apakah karena mereka tidak memiliki jiwa nasionalisme? Sama sekali bukan!

Melalui Model Migrasi Todaro dan penelitian pakar sosiologi perdesaan Ben White, kita memahami bahwa tindakan pemuda desa adalah kalkulasi rasional. Anak muda memperhitungkan Expected Income Differential (selisih ekspektasi pendapatan riil). Ketika bekerja di sektor jasa atau informal di Kota Medan memberikan insentif pendapatan yang lebih pasti, mengapa mereka harus bertahan di sawah yang menawarkan kemiskinan berulang? Kebijakan sprin yang mengabaikan tingkat kesejahteraan petani secara langsung telah membunuh regenerasi sektor pertanian itu sendiri.”

Pendalaman Analisis:

  • Model Migrasi Todaro: Keputusan migrasi desa-kota tidak ditentukan oleh pendapatan nominal saat ini, melainkan oleh selisih ekspektasi pendapatan riil (Expected Income).
  • Fenomena Aging Farmers: Tanpa kepastian insentif, sektor pertanian mengalami brain drain dan aging population, yang mengancam keberlanjutan kedaulatan pangan nasional jangka panjang.

 

4: Rekonstruksi Paradigma – Menjadikan Swasembada Sebuah Maraton


“Bapak, Ibu, dan Seluruh Hadirin,

Maka dari itu, di podium ini saya menegaskan: Sudah saatnya pemerintah mengganti sepatu sprinnya dengan sepatu maraton. Kita harus merombak paradigma pembangunan pertanian nasional dari Productivity-Centric (fokus pada tonase) menjadi Farmer-Centric (fokus pada manusia/petaninya).

Untuk menjadikan swasembada ini sebuah maraton yang tangguh dan berkelanjutan, kita membutuhkan tiga langkah strategis:

  1. Menjamin Stamina Pelari (Sustenance): Pemerintah tidak boleh lagi berbangga dengan angka tonase panen jika harga pupuk non-subsidi membelit leher petani. Indikator keberhasilan harus digeser pada peningkatan Net Income (pendapatan bersih riil) dan keterjangkauan input produksi.
  2. Menjaga Lintasan Lari (Freedom from Servitude): Hentikan laju alih fungsi lahan sawah 2.500 Ha/tahun di Sumatera Utara secara tegas melalui penegakan UU LP2B. Kembalikan kedaulatan tanah kepada petani gurem agar mereka tidak menjadi asing di tanahnya sendiri.
  3. Menyiapkan Estafet Pelari Muda (Model Todaro): Buatlah sektor pertanian menjadi sektor yang rasional secara ekonomi bagi generasi muda. Berikan insentif modal, jaminan harga minimal (HPP) yang berkeadilan, dan modernisasi teknologi agar Expected Income pertanian mampu menahan gelombang migrasi pemuda keluar dari desa.

Swasembada pangan bukan tentang siapa yang tercepat sampai di garis finis tahun ini untuk memamerkan piala politik. Swasembada pangan adalah tentang memastikan bangsa ini memiliki stamina untuk terus memberi makan rakyatnya hari ini, esok, dan hingga generasi yang akan datang.

Terima kasih.”

 

 

III. MATRIKS RINGKASAN

Gunakan matriks ini sebagai kartu panduan cepat saat membawakan orasi di atas panggung:

Babak Kata Kunci Retorika Teori & Data Kunci Pesan Utama (Takeaway)
Babak 1 Jebakan Sprin & Obsesi Tonase Makro 3 Core Values Todaro (Sustenance); Neilson & Wright Swasembada politik berbasis tonase fisik mengorbankan ketahanan pangan rumah tangga.
Babak 2 Pelari Terengah-engah & Dualisme NTPP 101,2-104,8 vs NTPR > 150; Pupuk 3x Lipat; McCarthy et al. Dualisme ekonomi & alih fungsi lahan memeras daya tawar petani pangan Sumut.
Babak 3 Kehabisan Napas & Krisis Pelari Todaro Migration Model; Petani >45 thn >61%; Ben White Pemuda desa rasional meninggalkan pertanian akibat Expected Income yang sangat rendah.
Babak 4 Strategi Maraton & Farmer-Centric Shift to Farmer-Centric; Proteksi LP2B; Insentif Milenial Ubah tolok ukur sukses dari ‘Tonase Produksi’ menjadi ‘Pendapatan Bersih Petani’.

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

Rekomendasi Kebijakan Berbasis Todaro: Transformasi Farmer-Centric

1.       Orientasi Kebijakan: Pemerintah harus mereorientasi tolok ukur sukses swasembada dari sekadar ‘Peningkatan Tonase Produksi’ menjadi ‘Peningkatan Net Income dan Daya Beli Petani’

2.       Perlindungan Lahan Agraria: Penegakan ketat UU LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) di sentra Sumut untuk menghentikan laju konversi 2.500 Ha/tahun.

3.       Kepastian Insentif Bagi Petani Muda: Penyediaan insentif modal, teknologi alsintan modern, dan jaminan harga minimal (HPP) untuk memperkecil Expected Income Differential sesuai Model Todaro.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA ImageChange Image

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.